Tips Makan Sehat di Luar Rumah

Tips Makan Sehat di Luar Rumah

25 July 2017

Banyak orang berpikir daripada harus belanja ke pasar atau swalayan, harus repot menyiangi sayur mayur dan bahan masakan lainnya, lalu memasak sendiri di dapur, mending memilih makan di luar rumah. Tidak perlu bersusah payah, tinggal duduk makan, tak perlu membereskan meja makan dan mencuci piring pula. Padahal konsep makan sehat itu bukan sekadar kenyang atau juga asal makan. Kenyang dan asal makan cenderung menjadi pola makan yang salah kebanyakan masyarakat sekarang. Sejatinya tak cukup hanya kenyang, kalau yang dikonsumsi tidak memiliki kandungan nutrisi lengkap yang tubuh butuhkan. Lebih buruk dari itu, apabila yang kita makan mengandung bahan-bahan yang tidak menyehatkan.

Tubuh kita membutuhkan sedikitnya 45 jenis zat gizi (nutrient) setiap hari. Tiada hari tanpa boleh kehilangan satu pun zat gizi supaya "mesin" tubuh berputar lancar. Di antara 45 jenis nutrient itu, separuhnya bersifat esensial. Artinya tubuh tidak bisa membuat yang esensial itu sendiri, melainkan harus datang dari luar tubuh, seperti protein esensial, lemak esensial, dan juga vitamin dan mineral esensial.

Untuk dapat terpenuhi sampai selengkap itu, tidak diperoleh dari sekadar menu. Menu harus disusun serba lengkap, dibuat dari beraneka jenis bahan makanan, dan diolah menjadi lebih dari hanya satu menu saja. Paling kurang terhidang 4-5 jenis menu setiap kali makan, agar yang 45 jenis zat gizi itu bisa terpenuhi.

Namun sekali lagi, saking padatnya waktu, atau sedikitnya waktu makan, dan bahkan dianggap tidak praktis, orang sekarang cenderung makan serba instan. Artinya makan seadanya, seketemunya, dan cenderung hanya satu menu belaka ('monodiet'). Sepiring nasi dengan soto saja, atau dengan gado-gado saja, atau dengan rawon saja. Jelas menu begitu tidak bisa memenuhi 45 jenis zat gizi sebagaimana yang tubuh butuhkan.

Kalau pola makan selalu 'monodiet' begitu untuk waktu lama, tubuh akan menderita kekurangan zat gizi. Mungkin satu jenis zat gizi, bisa jadi lebih. Akibat kekurangan itulah maka muncul gejala macam-macam sesuai dengan fungsi zat gizi yang hilang dari menu harian itu. Mungkin kulit jadi kering, fungsi sendi jadi terganggu, kurang darah, sering pegal, dan keluhan harian lainnya. WHO menyebut orang yang sebetulnya kecukupan makan tapi kekurangan satu atau lebih zat gizi dari menu hariannya sebagai hidden hunger.

Menyadari akan kenyataan itulah, maka muncul industri suplemen untuk mencukupi semua kekurangan zat gizi yang tidak diperoleh dari menu harian untuk waktu lama. Sekali lagi, penyebabnya lantaran pola makan serba instan, seadanya, seketemunya atau asal kenyang saja.

 

Kelemahan makanan di luar rumah bukan cuma satu. Apakah itu junk food, fast food, atau tiger diet, hampir semua tidak tergolong menu yang menyehatkan karena beberapa hal. Pertama, bahan makanannya sendiri belum tentu masih segar. Sayur mayur disimpan lama di lemari es. Begitu juga daging, ikan, dan bahan lainnya. Berarti sejak masih bahan mentah, sudah tidak segar lagi. Tidak segar berarti sudah kehilangan sebagian kandungan gizinya, termasuk vitamin dan mineralnya.

Walau kita tahu bahwa bahwa semua bahan mentah untuk dimasak sudah lebih rendah kualitasnya akibat kondisi lapisan atas tanah bumi (topsoil) kita sekarang sudah kehilangan zat hara buat tanaman budidaya, sayur mayur maupun buah-buahan. Itu berarti kelengkapan kandungan alami gizi dari bayam, wortel, sawi, atau apa pun jenis sayur mayur dan buah-buahan sekarang ini tidak se-bermutu zaman dulu.

Selain kedua hal di atas, masalah berikutnya terletak pada cara memasaknya yang menambah jelek kualitas menu di luar rumah. Mengapa? Lihat saja cara mengolahnya dengan minyak berlebihan, minyak kelewat panas, bumbu berlebihan, garam dapur kebanyakan, bahkan mengimbuhi zat aditif yang belum tentu aman bagi kesehatan. Jadi kalau dikalkulasikan, hampir semua unsur dalam kebanyakan menu di luar rumah nyaris kurang menyehatkan.

Itu semua yang menyebabkan mengapa penyakit-penyakit metabolik, seperti kelebihan lemak dalam darah, kencing manis, jantung koroner, dan stroke acap diperburuk oleh pola makan di luar rumah seperti itu. Jangan lupa juga mengapa kasus kanker semakin banyak sekarang ini, lebih soal salah memilih menu di luar rumah.

 

Dari sekian banyak kelemahan menu di luar rumah, kalau tidak ada pilihan, terpaksa harus memilih menu di luar rumah juga. Karena itu beberapa hal perlu dipertimbangkan. Di antaranya pastikan bahan makanannya masih segar, diolah sederhana, tidak menggunakan bumbu berlebihan, dan tanpa zat aditif.

Pilih menu yang makin banyak bahan alaminya, daripada bahan olahan, seperti lebih banyak sayur, ikan, kacang-kacangan, jamur, umbi-umbian, dan bukan sosis atau bakso. Kalau ada sayur lodeh, sayur asam, gado-gado, karedok, rawon, rendang, jangan memilih spaghetti, pizza, atau burger.

Kalau ada yang sedikit memakai minyak masak, jangan pilih ayam goreng, kentang goreng, atau semua jenis gorengan. Kalau ada pepes jangan pilih yang ditumis. Kalau ada roti gandum, jangan pilih donat. Kalau ada ubi rebus sebagai camilan, jangan pilih kue bolu. Kalau ada gula merah (gula jawa) dan madu, jangan pilih gula pasir. Begitu juga kalau tersedia roti gandum mengapa memilh roti putih (sandwich).

Menu di luar rumah cenderung lebih kental cita rasanya. Cenderung lebih manis, asin, dan gurih, juga banyak penyedapnya. Maka jenis menu yang boros gula, garam, dan lemak sebisa mungkin harus dijauhi. Perlu diluruskan bahwa bukan daging yang membuat orang darah tinggi, melainkan asupan garam dapurnya yang berlebih.

Jadi ketika terpaksa makan di luar rumah, selain memilih menu seperti sudah disebut di atas, khusus minta agar mengurangi garamnya, tanpa bumbu penyedap, dan memakai minyak tidak berlebihan.

Kerupuk merah cerah yang banyak kita temui itu memakai zat warna tekstil (rhodamine B) yang tidak boleh dikonsumsi manusia, maka jangan dipilih. Juga saus tomat merah kesumba, sirop kuning kinclong (methylene yellow), bakso garing, tahu berformalin, atau mie dengan boraks. Semua itu termasuk yang tidak higienis. Dan kalau penyajiannya tidak higienis, pilihlah yang dipanaskan ketimbang mentahan.

Sayangnya tidak semua kita bisa mengendus dan mengetahui apakah bahan makanan dan menu yang kita konsumsi di luar rumah mengandung bahan makanan berbahaya bagi kesehatan. Sekali lagi, pilihlah yang bahan mentahnya berasal dari alam, bukan yang sudah diolah.***

Ditulis oleh Dr. Handrawan Nadesul

Sumber: www.sahabatnestle.co.id

Follow & Share :

INFO LAINNYA